Bersyukur Kepada Allah

Keluarga besar Rumah Sakit Islam “Sultan Hadlirin” bersyukur karena dalam usianya yang ¼ abad telah banyak menabung partisipasi bagi kesehatan masyarakat Jepara. Mulai dari Pembina, Pengurus, Pengawas, Manajemen dan Karyawan telah menunjukkan kejuangannya dalam kemaslahatan umat dibidang kesehatan. Jika pada awal berdirinya (1989) baru terbangun 12 kamar untuk 24 pasien pada gedung Musdalifah atas bantuan para pihak, sekarang (2014) sudah 138 tempat tidur dengan tingkat hunian (BOR) 70 % dan hampir saja bersifat mandiri. Dengan 312 tenaga medis dan non medis serta dukungan bangunan yang lumayan megah ditambah alat kesehatan yang memadai, dapat dibilang RSI Sultan Hadlirin Jepara sudah semakin profesional.

Tentu saja kerja keras itu berdimensi ganda yaitu ibadah sosial. Disatu sisi dimaksudkan sebagai kiat berburu pahala sedangkan di sisi lain demi kemaslahatan umat.

Orientasi Kesehatan

Kesehatan Ruhani dan Jasmani

Badan kesehatan dunia (WHO) merumuskan standar kesehatan dalam empat dimensi yaitu sehat fisik, psikis, sosial dan spiritual. Oleh karena itu jika ingin sehat betulan, keempatnya harus terawat. Pelayanan dalam kesehatan fisik memang menjadi tugas utama rumah sakit. Akan tetapi dimensi yang lain juga harus menjadi tugas samping, apalagi para rumah sakit Islam. Merajalelanya penyakit moral spiritual sekarang ini sungguh memprihatinkan dan menjadi tantangan kita bersama.

Sehat Itu Mahal

Disamping sangat indah, sehat itu juga mahal. Oleh karena itu dalam sebuah hadits yang berjudul “Lima Sebelum Lima” Rasulullah menganjurkan salah satunya dengan : “Perhatikan sehatmu sebelum sakit”. Sebab jika baru diatasi sesudah terjadi (kuratif) apalagi jika terlambat, biayanya bisa menjadi besar. Bahkan bisa sangat mahal.

Konsep Dasar Kesehatan Menurut Islam

Tabib beragama Kristen yang juga dokter pribadi Sultan Harun Rosyid, mengejek Ali bin Husein bahwa Alqur’an tidak menuturkan konsep kesehatan. Ali bin Husein menjawab : “Al Qur’an memaparkan konsep kesehatan hanya dalam separuh ayat”. “Apa itu?”. Ali membacakan surat al A’raf “Makan dan minumlah dan jangan berlebihan.

Tapi nabimu tidak menuturkan konsep kesehatan, Ali menjawab lagi “Nabiku membahas lengkap kesehatan dalam satu haditsnya : “Manusia tidak memenuhi seuatu tempat yang lebih jelek daripada perut/ lambung. Cukuplah baginya beberapa suap makanan sekedar bisa menegakkan tulang punggungnya. Jika menuntut harus dipenuhi maka sepertiga untuk makanan sepertiga lagi untuk minuman dan lainnya untuk pernapasan”. Dokter Kristen itu terkagum-kagum dan berkata : “Ternyata Hiprocates (dokter Kristen yang dibanggakan) tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kitab suci dan nabimu”.

Kisah lain menyebutkan bahwa dalam rangka kerjasama dan pembantuan, kaisar Mucaucis (Katolik ortodok di Mesir) mengirim dokter-dokter ke Madinah untuk pelayanan kesehatan. Ternyata mereka tidak “laku”. Bukan karena mahal atau kualitasnya rendah, melainkan karena masyarakat Madinah semuanya sehat. Mereka-pun pamit pulang sambil bertanya kepada Rasulullah apa resepnya. Nabi menjawab : “Kami adalah golongan yang tidak makan kecuali lapar dan jika makan tak pernah sampai kenyang” (HR. Abu Dawud).

Islam juga mempunyai konsep kesehatan lain yakni dengan berpuasa. Nabi berkata : “Berpuasalah, Anda akan sehat”. Tentu saja puasa yang sebenar-benarnya dan segala-galanya, bukan hanya sekedar menahan lapar dan dahaga.

Alhasil dapat disimpulkan bahwa sehat itu sangat indah sedangkan kesederhanaan adalah pangkal segala keindahan.

Sebuah Harapan Bagi Pelayan Kesehatan

Perusahaan apapun akan bangkrut manakala SDMnya tidak memiliki keahlian, komitmen dan loyalitas. Demikian juga RSI “Sultan Hadlirin”. Dalam meniti kehidupan, kita sudah terlanjur meneken kontrak kerja di bidang pelayanan kesehatan. Agar terjadi apa yang diharapkan diperlukan ketekunan dan kesabaran yang disemangati sentuhan kasih sayang (rahmah). Budaya S5 (Senyum, Salam, Sapa, Sabar dan Sopan) harus dikembang tumbuhkan meskipun berat.

Kita sangat yakin bahwa besarnya RSI “Sultan Hadlirin” akan bermanfaat bagi kemaslahatan ganda : masyarakat dan kita. tentu saja, segala ikhtiyar kita upayakan termasuk do’a kepada Allah SWT.

 

Share This :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *