“Menjadi Rumah Sakit Islami Unggulan Yang Bermaslakhat Bagi Umat” adalah visi yang senantiasa melandasi aktivitas dan pelayanan segenap insan RSI Sultan Hadlirin Jepara. Terlebih pada tahun 2019 ini, Direktur RSI Sultan Hadlirin Jepara, Dr. H. Gunawan WS, DTMH, M.Kes bertekad untuk meraih sertifikasi Rumah Sakit Syariah dari DSN-MUI. Semangat inilah yang mengilhami Bina Rohani (BINROH) untuk melakukan pembinaan karyawan yang dikemas dengan kegiatan In House Training (IHT) Fikih Ibadah.

Sebagai informasi bahwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) telah memfatwakan “Pedoman Penyelenggaraan Rumah Sakit Berdasarkan Prinsip Syariah” dengan nomor : 107/DSN-MUI/X/2016. Fatwa inilah yang menjadi landasan MUKISI (Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia) melakukan sertifikasi syariah. 

Materi kegiatan yang disampaikan pada hari Kamis, 21 Februari 2019 M/ 16 Jumadil Akhir 1440 H, bertempat di aula RSI Sultan Hadlirin Jepara, adalah seputar penguatan akidah Islam, fikih bersuci (meliputi Tayamum dan Wudlu) juga fikih salat. Tidak hanya teori, tetapi dalam kegiatan tersebut juga ditampilkan praktik Tayamum, Wudlu dan salat sesuai mazhab Syafii. 

Narasumber kegiatan dimaksud adalah Ust. Ahmad Fajar Inhadl, Lc. Ketua Komite Syariah, Etik dan Hukum RSI Sultan Hadlirin Jepara. Pada awal kegiatan, beliau mengajak para peserta untuk merenungkan bersama “Kenapa kita perlu bersyariah?”. Tujuannya adalah agar peserta memahami urgensi kegiatan yang dilaksanakan dan semakin termotivasi untuk menjalankan syariah Islam di bidang pelayanan kesehatan.

“Banyak RS menyandang nama Islam, tetapi banyak juga di antaranya yang tidak memperjuangkan nilai-nilai Islam. Yaitu mengimplementasikan dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar di bidang kesehatan”

Merupakan statmen yang beliau sampaikan pada pembukaan IHT yang dihadiri oleh 39 orang karyawan dari berbagai instalasi, bagian dan ruangan. Pada kegiatan dimaksud peserta juga diberikan kesempatan untuk bertanya dan melakukan konfirmasi atas materi yang disampaikan oleh narasumber. Pada sesi inilah nampak antusias yang luar biasa dari peserta IHT. Hal ini nampak dari jumlah pertanyaan yang masuk ke panitia kegiatan. Pertanyaan yang diajukan-pun beragam, mulai masalah keseharian hingga kendala yang ditemukan ketika memberikan pelayanan kepada pasien. 

Kegiatan yang dimulai sejak pukul 09.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB tersebut memberikan kesan yang sangat luar biasa kepada peserta IHT. Hal ini terbukti dengan “Pesan & Kesan” peserta yang dituliskan dalam lembar kuisioner kepuasan peserta. Diantara kesan yang disampaikan adalah “Dengan IHT kita menjadi tahu cara pasien melakukan ibadah ketika sakit. Sehingga meski sakit, ibadah tetap terjaga kontinuitasnya”. 

Semoga kegiatan ini menjadi langkah nyata untuk mewujudkan cita-cita meraih sertifikasi RS Syariah. Dan yang lebih penting dari itu adalah agar sumber daya insani RSI Sultan Hadlirin Jepara berkompten untuk membimbing ibadah pasien selama dirawat. Sehingga arti “Sembuh” bukan hanya terbatas pada kesembuhan fisik semata, tetapi juga menjadikan kualitas ibadah pasien meningkat setelah dirawat di RSI Sultan Hadlirin Jepara. Atau biasa dikenal dengan istilah kesembuhan paripurna yang dimulai dari pengobatan holistik. (ufo-83)

Share This :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *