Oleh : Dr. Sylvi Anitasari, Sp.A

Ngomongin soal diare, kita mesti paham dulu pengertiannya. Diare adalah perubahan frekuensi dan konsistensi dari per-eek-an. Frekuensi disini adalah lebih dari 3x sehari, kecuali dedek bayi yg masih full ASI (ASI eksklusif bisa 8-10x BAB, normal). Konsistensi yg berubah maksudnya menjadi cair, lembek, bercampur lendir, bahkan bercampur darah. Bau tinja biasanya juga lebih menyengat, bau busuk atau bau asam.

Penyebab diare beragam. Paling sering pada balita adalah karena virus Rotta, yg ditandai bab cair, nyemprot, bau asam, demam, muntah. Bisa juga krn bakteri semacam shigella, salmonela, e.colli, enterobacter, yg ditandai demam, diare lembek campur lendir dan atau darah, terus menerus diare meski tidak ada asupan, biasanya anak tampak sakit dan lemes. Bisa juga karena intoleransi laktosa, keracunan makanan, alergi, dan masih banyak yg lain. Maka itu, maapkeun jika dokter menjadi mirip pak polisi yg lagi interogasi kalo lg nanyain per-eek-an dikarenakan kita harus cari tahu apa kira2 penyebabnya.

Diare menurut derajat dehidrasinya dibagi 3 :

  1. Tanpa dehidrasi : dedek masih hahahihi, aktif seperti biasa
  2. Dehidrasi tak berat : ditandai mata cowong, nangis tanpa air mata, bibir&mulut kering, kehausan, jumlah pipis berkurang, suhu tubuh meningkat.
  3. Dehidrasi berat : kalo sudah begini si dedek akan sangat lemes, males minum, ngantukan atau kesadaran turun, nafas cepat, tangan dan kaki dingin dan lembap.

Trus kalo anak diare diapain donk? Sebetulnya, pentalaksanaan diare ada 5 langkah, beberapa diantaranya bisa dilakukan orang tua, beberapa harus dengan peran serta dokter.

Langkah 1 : Rehidrasi, atau penggantian cairan
Pada anak yg diare tanpa dehidrasi, atau dehidrasi tak berat, orang tua dirumah dapat meningkatkan asupan cairan, terutama dengan ORALIT. Jumlahnya sekitar 70 cc/kg BB, diberikan sedikit demi sedikit selama kurang lebih 4 jam. Cairan lain seperti air putih, susu, kuah sayuran, sirup, boleh diberikan. Tiap kali diare, diusahakan anak mendapat cairan sebanding yang dikeluarkan.

2. Pemberian Nutrisi
Makanan dan minuman pada anak dgn diare tidak mengalami perubahan. ASI eksklusif tetap diberikan, bahkan harus dipersering. Penggantian susu dengan formula rendah lactosa hanya bagi yang memang intoleransi laktosa (tanyakan pada dokter untuk hal ini)

3. Suplementasi Zink
Pemberian suplementasi Zink baik yg syrup maupun tablet diberikan selama 10 hari meskipun diare sudah berhenti. Dosisnya pada anak usia <6 bulan 10 mg/hari dan anak usia >6 bulan 20 mg/hari dosis tunggal. Xink penting untuk membantu memperbaiki sel usus dan enzim saluran cerna.

4. Antibiotika Selektif
Antibiotika diberikan jika dan hanya jika penyebabnya adalah bakteri. Jenis obat, dosis dan lama pemberian haruslah sesuai petunjuk dokter.

5. Monitoring atau Pengawasan
Ayah dan bunda harus memperhatikan tanda2 bahaya dehidrasi berat. Perhatikan juga asupan cairan, makanan, serta seberapa banyak diare atau muntah. Jika memang membahayakan JANGAN DITUNDA untuk segera ke pusat pelayanan kesehatan terdekat.

Oiya, saya ada pengalaman, pasien diberikan obat penghenti diare dan berakhir dengan ileus paralitik atau gangguan pergerakan usus, sehingga perut kembung tidak bisa BAB dan jadi berabe.

So, seperti yg saya kemukakan di awal, diare itu boleh, asal kita atasi dehidrasi atau kekurangan cairannya. Jika tidak mampu mengatasi sendiri, segera cari bantuan. Diare tidak distop karena justru berbahaya. Perlu diingat bahwa diare, muntah, demam, batuk, pilek, bersin, adalah usaha badan untuk mempertahankan diri. Mari kita dukung pertahanan tersebut dengan penatalaksanaan yang tepat, kasih sayang, dan kesabaran tanpa batas.

Share This :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *