Seringkali manusia “hanya” mempedulikan kesehatan jasmaninya saja. Berbagai upaya untuk meraih kesehatan jasmani-pun dilakukan, pola makan sehat dirumuskan dan dijalankan, suplemen dan nutrisi dikonsumsi demi menjaga kesehatan tubuh, pola hidup sehat di praktekkan agar tubuh terhindar dari penyakit, dan masih banyak lagi upaya dan cara untuk mewujudkan jasmani yang sehat. Sayangnya upaya ini tidak di imbangi dengan upaya menjaga kesehatan rohani kita. Kita melupakan realita bahwa manusia tidak hanya terdiri dari jasmani saja. Untuk “bisa” hidup manusia membutuhkan ruh. Ruh adalah elemen penting dan harus mendapatkan perhatian dan perawatan seperti halnya jasmani atau jasad kita. Karenanya berbagai upaya yang bertujuan untuk memelihara ruh atau bisa kita istilahkan dengan sebutan spiritual building adalah upaya terpuji dan mendapat apresiasi dari Allah SWT. Jika 2 komponen ini (Jasmani dan Rohani) bisa bersinergi, maka kebahagiaan dunia akhirat yang senantiasa kita dambakan akan diperoleh.

Manusia bijaksana adalah mereka yang paham betul dengan misinya selama ditugaskan sebagai khalifah dimuka bumi. Manusia adalah manajer operasional yang menjalankan sistim Allah sebagai Top Manager. Sistim manajemen manusia tertuang dalam berbagai perintah dan larangan-Nya. Tujuan sistim ini diciptakan tidak lain dan tidak bukan adalah sebagai guidance atau panduan bagi umat manusia. Panduan untuk menggapai kebahagian dunia dan akhirat. Bagi seorang muslim rumah dunia adalah tempat mengumpulkan kebaikan sebagai modal membangun rumah akhirat kelak. Dunia adalah ladang kebaikan yang akan kita panen hasilnya kelak diakhirat. Sungguh celaka manusia yang hanya berorientasi pada duniawi saja, sementara akhiratnya dia terlantarkan. Dan sungguh sengsara orang yang hanya memandang akhirat sebagai tujuan akhir tanpa mau berbuat kebaikan selama didunia.

Agar rumah akhirat kita semakin “megah dan indah” maka yang harus kita lakukan adalah memperbanyak kebaikan selama hidup didunia. Seorang muslim yang cerdik akan berusaha mencari lahan kebaikan yang belum banyak diakses oleh kebanyakan umat manusia. Ibarat kita bepergian tentu kita akan mencari jalan yang tanpa macet agar cepat sampai ke tujuan kita. Ibarat kita ingin membeli sesuatu pastinya kita akan mencari tempat yang tanpa ada antrian disitu. Begitu halnya dengan kebaikan, upayakan dan carilah kebaikan yang belum banyak dilakukan oleh orang sekitar kita.

Segala puji bagi Allah, ternyata jika kita melakukan analisa lapangan, kita akan menemukan realita bahwa di kota Jepara ini “tidak banyak” orang yang mendapatkan kesempatan memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat seperti kita. Pada tahun 2011 angka sementara jumlah penduduk di Jepara adalah 1.124.203, kira-kira dari sekian banyak jumlah penduduk berapa persen-kah yang berprofesi sebagai tenaga kesehatan?, saya tidak mempunyai data valid untuk mendukung asumsi saya, tapi saya optimis bahwa jumlah tenaga medis di Jepara lebih sedikit bila dibandingkan dengan PNS, Pengrajin Kayu, Pengusaha Mebel, Nelayan, Petani dan lainnya, dan semoga optimisme saya benar. Jika demikian maka saat ini anda berada pada track yang benar dan anda berada dijalur akses yang hanya ditempati oleh sedikit orang.

Track atau jalurnya sudah benar, tetapi bagaimana caranya agar pekerjaan kita bisa menjadi ladang kebaikan didunia?. Jawabannya sangat simpel sekali, adalah dengan “Menjadikan Pekerjaan Kita Sebagai Perwujudan Ibadah Kepada Allah”. Ibadah tidak boleh hanya dipahami sebagai shalat, zakat, membaca Qur’an, dzikir dan lain sebagainya. Ibadah mempunyai 2 ranah, pertama adalah ranah individu dan kedua adalah ranah sosial. Simpelnya ibadah individu adalah ibadah yang “manfaatnya” kita rasakan sendiri. Sementara ibadah sosial adalah ibadah yang “manfaatnya” menjalar ke setiap orang disekitar kita. Contoh ibadah individu adalah shalat, dzikir, membaca al Qur’an, puasa dan lain sebagainya. Sementara ibadah sosial adalah membantu sesama, menolong orang yang sedang sakit, memenuhi kebutuhan orang yang membutuhkan bantuan kita, dan perilaku sosial lainnya. 2 ranah tersebut harus dijalankan secara bersamaan dan balance.

Langkah berikutnya, agar pekerjaan kita menjadi wujud peribadatan kepada Allah, apa yang harus kita lakukan?, jawabannya adalah dengan “Menyertakan Niat Dalam Setiap Aktivitas Kita”. Pekerjaan yang sering kita lakukan sehari-hari biasa disebut dengan aktivitas, agar aktivitas itu “berubah” menjadi ibadah maka yang harus dilakukan adalah melandasinya dengan niat. Dan seperti sabda Rasulullah SAW bahwa “Pekerjaan itu tergantung pada niatnya”. Jika niat beraktivitasnya adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup (materi), maka “hanya” itu yang dia dapatkan. Tetapi jika niat beraktivitasnya adalah agar dia dihindarkan dari kefakiran, agar dia bisa memberikan pendidikan yang baik buat anaknya, agar harta yang terkumpul bisa dijadikan sebagai media pendukung ibadah-ibadah kepada Allah maka sesungguhnya apa yang dia lakukan adalah ibadah.

Berikutnya, agar ibadah kita diterima dan mendapat reward setimpal dari Allah, maka yang harus dilakukan adalah 2 hal, yaitu profesional dan ikhlas. Profesional adalah menjalankan pekerjaan sesuai dengan SOP atau Tupoksi yang telah ditentukan dan sesuai dengan kompetensi dan kapasitasnya. Sedangkan ikhlas adalah bekerja “hanya” untuk Allah. Yang dimaksud “hanya untuk Allah” adalah bahwa dia tidak melihat manusia sebagai auditornya, dia bekerja bukan untuk menyenangkan hati pimpinannya, dia bekerja bukan demi mendapatkan pujian dari sejawatnya, tapi dia bekerja karena Allah yang mengawasinya.

Terkadang tingginya volume aktivitas membuat kita lupa bahwa dalam pekerjaan kita ada sisi ibadahnya. Karenanya melalui tulisan singkat ini marilah kita budayakan “niat” dalam setiap aktivitas kita, dengan harapan semoga aktivitas kita senantiasa mendapat ridla dan dicatat sebagai ibadah oleh Allah. Jangan sampai umur kita “terbuang” sia-sia dengan banyaknya pekerjaan yang berorientasi kepada dunia. Sebagaimana pesan junjungan kita nabi Muhammad SAW : “Orang cerdik (pandai) adalah dia yang selalu mengintrospeksi dirinya dan melakukan pekerjaan dengan berorientasi pada akhiratnya. Dan orang lemah adalah dia yang selalu menuruti hawa nafsunya dan selalu “bermimpi” akan ampunan dan rahmat Allah”.

Share This :
  • 57
    Shares

1 thought on “Bekerja Adalah Ibadah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *